Pindah ke Philippines! #Part1

Pindah ke Philippines! #Part1

Setelah hampir sebulan ini gue pindah tempat kerja dan tinggal di Taguig City Philippines. Banyak banget yang tanya gimana rasanya kerja di luar? Disana makan apa? Orang-orang nya gimana? Beda berapa jam? Udah ketemu jodoh apa belum? Ada juga yang titip salam buat si Angelo (yang gue sendiri gak tahu siapa). Jujur ini adalah pengalaman pertama gue keluar negeri sendirian dan menetap sendirian pula. Lalu gue percaya sekarang, Tuhan memang Maha Asyik dan penuh kejutan, dari dulu selalu berdoa ingin tinggal di tempat dimana gue jadi minoritas, yess akhinya gue merasakan sekarang, how to adapt and how to survive juga tetep respek sama budaya lokal.

Untuk jawab semua pertanyaan-pertanyaan diatas, tadinya gue mau bikin vlog (lumayan pan kalau ada yang endorse), karena gak punya kamera dan muka gue juga kayanya gak kamera face, akhirnya gue memutuskan untuk menulis saja, biar blog juga update lagi.

  1. Gimana rasanya kerja diluar?

Rasanya panik diawal, banyak kekhawatiran macem gimana kalau gak ngerti, gimana kalau gak bisa dll Sejauh ini orang-orang kantor gue (ngga tahu dikantor lain gimana) sangat supportif membantu gue beradaptasi, dan orang Philippines jago banget englishnya (sampe gue kadang gak paham) jadi tetep bisa ngobrol macem-macem.

  1. Disana makan apa?

Oke urusan makanan memang ini yang paling menantang buat gue selama tinggal disini. Sejujurnya makanan sini rasanya hampir sama kaya makanan di Indonesia, nasi + lauk pauk biasa, hanya buat gue kudu hati-hati karena everywhere pork. Akhirnya gue masak terus tiap hari dan bawa bekel ke kantor. Dalem hati ingin memakan goreng-gorengan yang dijual pinggir jalan kaya di Jakarta, disini juga akan sulit menemukan kecap manis dan saos sambel yang pedes (saos disini kebanyakan saos tomat yang kalo kata orang Indonesia mah gak ada seujung kuku pedesnya). Pengalaman gue jajan d Mcd udah beli paket yang paing hot spicy ayam di campur saos dan rasanya asin, iya asin kaya yang ngebet nikah. Tips, bertanyalah dulu sebelum membeli, dan bawalah kecap manis + saos abc!

  1. Disana orang-orang nya gimana?

Secara fisik orang Indonesia sangat mirip banget sama orang Philippines. Tiap keluar dan bertanya ke orang, pasti orang akan jawab pakai tagalog dimana saat itu otak gue berhenti, bengong dan gak paham. Gue lihat orag-orang sini juga lebih ekspresif, contohnya sapaan pagi tiap hari di kantor, kalau dikita ketemu paling cuma senyum, disini semua mengucapkan “good morning” dengan lantang dan happy. Dari orang Philippines gue juga banyak belajar keramahan, mereka sangat baik dan ramah ke semua orang. Oh ya mereka juga punya budaya antre yang bagus banget. Gue sampe terheran-heran orang ngantri MRT dan bus rapi banget dan ngga rusuh kaya di stasiun Manggarai atau halte busway Harmoni.

20170513_182151
Antrian orang mau naik bus. Rapi banget!
  1. Beda berapa jam? Cuacanya gimana?

Indonesia-Philippines Cuma beda sejam (kaya lagi di Indonesia bagian tengah). Cuaca nya terutama di kota tempat gue tinggal rasanya lebih panas dari Jakarta, ntah kenapa gue selalu sangat cepat berkeringat disini, padahal ke kantor cuma jalan 5 menit. Cuacanya mirip cuaca Jakarta kalau lagi gak umum, jangan heran kalau lihat banyak yang pake payung siang-siang saking panasnya, termasuk mas-mas juga loh payungan.

  1. Udah ketemu jodoh belum?

Baru juga 3 minggu woy!

  1. Titip salam buat Angelo!

Oke jadi setelah gue telisik dan buat yang belum tahu, emang sekarang ada sinetron Philippines yang lagi tayang di Indonesia. Jadi si Angelo adalah tokoh yang ada di film itu.

  1. Transportasi di Philippines gimana?

Metro Manila, termasuk kota yang sangat macet (udah mirip kaya macet di pancoran atau pasar gembrog tiap pagi sama sore). Nah untuk urusan transportasi, di Metro Manila gue menemukan beberapa alternative transportasi:

  • MRT dan LRT

Menghubungkan antar kota di Metro Manila. Rute nya cukup simple (ngga serumit rute KRL atau busway di Jakarta) disini juga banyak sign, jadi tidak sulit untuk menemukan stasiun atau menentukan arah kereta. Harga untuk sekali naik MRT dan LRT bervariasi 13 pesos -20 pesos tegantung jarak. Tiketnya bisa beli tike sekali jalan di loket, atau beli kartu Beep yang bisa di isi ulang dan dipakai untuk MRT, LRT dan beberapa bis. Kondisinya sama kaya KRL di Jakarta, penuh sesak saat jam pergi-pulang kantor, hanya disini ngga ada tuh cerintanya “menunggu sinyal” kaya KRL di Jakarta. MRT dan LRT kayanya jadi favorit gue kalau weekend, selain gak macet, letak stasiun juga di dalem mall biasanya, bisa sekalian ngemall.

20170513_154752
LRT Situations saat weekend
WhatsApp Image 2017-05-16 at 8.59.17 AM
Beep card buat naik MRT, LRT dan Bis

 

  • Bus

Sejujurnya gue belum pernah pakai bus antar kota di Metro Manila, yang gue pernah hanya bus ke daerah BGC yang disediakan untuk area perkantoran. Yang gue lihat dijalan, mereka juga punya banyak bus (mirip metromini atau mayasari bakti) untuk melayani penumpang antar kota di Metro Manila.

  • Jeepney

Kalau di Indonesia ini mirip angkot, hanya bentunya sangat eksentrik. Harga untuk sekali jalan dengan jeepney 8 pesos, di bayar sebelum turun, bayarna dioper kedepan lewat orang yang duduk di deket supirnya. Gue juga belum pernah naik Jeepney, Karena beberapa temen kantor tidak merekomendasikan ini sebagai transporasi pilihan, faktor keamanan dan kecepatan menjadi alasannya.

WhatsApp Image 2017-05-03 at 2.40.29 PM
Jeepney (sejenis angkot kalau di Indonesia)
  • Habal-habal

Ini mirip ojek konvensional di Indonesia. Kalau lagi buru-buru dan kejebak macet ini bisa jadi alternative pilihan. Btw disini motor banyak tapi ngga sebanyak di Jakarta.

  • Threecycle

Semacam becak, bedanya abang yang mengayuh ada di sisi kita. Melayani jarak dekat dengan harga bisa nego.

  • Uber dan Grab

Hanya ada Uber Car dan Grab Car, tidak seperti di Indonesia ada versi Bike.

Disaat-saat kaya gini nih gue merindukan keberadaan gojek!

Tambahan informasi buat yang mau ke Philippines atau berencana bekerja disini, pemerintah Philippines menerapkan VAT 12% dimana di Indonesia hanya 10%. Jadi kalau jajan atau belanja kadang suka agak mahal. Disini juga pajak penghasilannya gede banget, hampir sekitar 30%-an (rasanya gue kaya dirampok) kalau di Indonesia kita masih ada PTKP yang tinggi, disini PTKP nya rendah banget sehingga hampir semua pekerja formal kena pajak. Ada juga Philhealth (macem BPJS), Pagibig (semacam bayar iuran untuk memberikan pinjaman membeli rumah dari kementerian perumahan) dan SSS (semacam subsidi untuk disabilitas).

Bersambung….

Seleksi PPAN, Nothing is Impossible!

Seleksi PPAN, Nothing is Impossible!

Hallo…

Masih ingat saya?

Saya yang berjanji akan terus menulis, tapi malah lebih sering main facebook dan posting photo di Instagram. Ampun jangan kutuk saya, kan namanya juga manusia, hanya bisa berencana, iya rencana doang hihi

Sekarang saya ingin menulis tentang tahapan seleksi untuk Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang saya ikuti tahun ini. Berhubung tiba-tiba ada yang menghubungi via Instagram dan bertanya tentang program ini, saya pikir akan lebih baik kalau dtulis sekalian, jadi kalau ada yang tanya lagi tinggal kasih deh link nya. Saya memang pemalas. Anyway, semoga tulisan nya bermanfaat dan berkah… Cekidot..!!

Jadi sebelum baca tulisan saya, please banget sebelumnya baca dulu tentang PPAN ya, karena saya gak akan jelasin apa itu PPAN, silahkan googling sendiri ya.

Berawal semasa tingkat 2 kuliah, di kampus saya ada sosialisasi tentang program PPAN, bermodal penasaran dan gak ada kerjaan, saya pun memutuskan untuk datang. Singkat certa, sepulang dari acara sosialisasi saya langsung cari tahu tentang seleksi untuk di Jawa Barat karena bisa jadi seleksi di setiap provinsi itu berbeda (berhubung kampus di Jawa Tengah, jadi ikut sosialisasi untuk Jawa Tengah). Saya akhirnya mendaftar, dan di tolak. Kejadian ini berulang di tahun berikutnya.

Waktu berlalu sampe saya lulus kuliah, gabung di IM setahun, selesai tugas dan bekerja di Jakarta. Tiba-tiba di bulan Maret dapet lagi tuh broadcast di WA tentang program PPAN ini, kebetulan ada beberapa teman di grup itu yang juga alumni. Lagi-lagi berbekal penasaran saya pun mendaftar.

Seleksi tahun 2016 agak berbeda dengan seleksi tahun-tahun sebelumnya di mana saya pernah ikut daftar. Di tahun ini seluruh pemuda yang akan ikut harus mengikui seleksi di tingkat kabupaten, yang lolos di kabupaten, barulah akan diikutkan seleksi provinsi.

Berbekal cuti sehari dari kantor, saya pulang ke Majalengka, lalu mendatangi Dinas Pemuda dan Olahraga yang sebelumnya sudah saya telpon untuk menanyakan perihal seleksi. Sampai di dinas ternyata di kabupaten saya belum ada yang daftar. Ini udah 3 hari lagi mau penutupan dan belum ada yang daftar! Karena gak ada yang daftar selain saya, dan memang dinas disini tdak mengadakan seleksi (jadi sistem nya yang daftar akan langsung masuk untuk seleksi provinsi) antara seneng dan miris sih. Saya gak akan bahas proses kerumitan berhadapan dengan birokrasi ini ya. You have to try by your self! Sabar aja sama banyakin doa.

Dua minggu setelah saya dapat surat rekomendasi (semacem golden ticket) dari kabupaten, saya di undang untuk mengikuti seleksi di provinsi. Sebelumnya saya harus mengisi formulir (semacam pertanyaan dengan jawaban essay pendek) dan membuat merekam video tentang keseian, bakat yang kita kuasai untuk di kumpulkan saat registrasi.

Seleksi II ini dilaksanakan di Dinas Pemuda Olahraga Jawa Barat. Seleksi mulai dari wawancara, pengetahuan umum, seleksi tertulis dan presentasi untuk Post Program Activity, sebelumnya kita dimintta membuat proposal sebuah kegiatan yang akan dilakukan jika terpilih dan dipresentasikan saat seleksi II.

Semua berjalan mulus, saya lolos ke Seleksi tahap III, hanya sekitar 50 orang yang terpilih mengikuti seleksi ini. Tahap III dilaksanakan di hotel di Bandung, seluruh peserta akan menginap untuk mengikuti seluruh rangkaian seleksi selama hampir 3 hari. Tenang hotelnya dibayarin dinas kok.

Di tahap ini semua makin kelihatan, yang jago bahasa inggris, yang jago seni, yang pinter banget, yang oke banget, dan saya yang merasa biasa aja tapi tetep pede aja..hehe. Selama hampir 3 hari peserta di uji di berbagai bidang mulai dari test tertulis bahasa inggris, FGD, interview, presentasi Post Program Activity, dan unjuk bakat langsung dihadapan dewan juri. Ala-ala Indonesia Got Talent!

Kagum dan minder sih melihat kemampuan teman-teman, lagi-lagi saya yang gak bakat seni dan persiapan yang seadanya dengan bahasa inggris yang ngepas banget dan tidak punya ekspektasi apa-apa, dapat ya Alhamdulilah, kalau nda terpilih berarti bukan rezeki.

Pengumuman peserta terpilih yang akan mewakili Jawa Barat di umumkan di hari terakhir, 6 orang dari Jawa Barat termasuk saya.

Terkahir pesan sponsor nih:

Buat yang mau daftar PPAN, jangan ragu dan minder kalau ngga punya bakat seni atau bahasa inggris pas-pasan. You should try, because Nothing Impossible. Selamat berjuang!

*Cerita tentang program rencananya akan saya tulis kemudian. Ini hanya rencana loh ya…

*Tambahan bonus photo

1460707674561