Biaya Hidup di Metro Manila

Tulisan gue kali ini akan membahas tentang biaya hidup di Metro Manila, semoga bisa membantu memberikan gambaran buat temen-temen yang lagi nego gaji atau yang berencana pindah ke Metro Manila. Tentunya perkiraan biaya hidup ini di buat general, teman-teman bisa menyesuaikan dengan gaya hidup masing-masing.

Sebelum nya gue mau jelasin dulu nih apa bedanya Metro Manila sama Manila. Jadi Metro Manila itu sebutan untuk kumpulan kota-kota yang salah satunya Manila. Kalau di Indonesia kaya DKI Jakarta yang isinya Jakarta Selatan, Utara, Pusat, Timur, dan Jakarta Barat. Bedanya kalau DKI Jakarta punya gubernur, nah Metro Manila gak ada gubernurnya, hanya ada walikota di tiap-tiap kota. Gue sendiri tinggal di Taguig City yang masuk juga dalam area Metro Manila.

Jadi udah paham kan bedanya apa, bisanya biar cepet, gue juga selalu bilang tinggal di Manila, padahal aslinya tinggal di Taguig City bukan Manila City hihi.

Oke langsung ke biaya hidup, disini gue coba bagi ke katagori tempat tinggal, makan, pulsa, transportasi, dan entertainment.

  1. Tempat tinggal

Di Metro Manila, umumnya orang-orang yang kerja menyewa semacam apartment/condominium. Harga sewa tentu berdasarkan tipe (luas) dan juga lokasi. Untuk gambaran sewa satu kamar + dapur + mandi di daerah Quezon City berkisar 10.000-15.000 pesos belum termasuk listrik dan air. Listrik dan air sendiri cukup mahal juga, per-bulan gue bayar sekitar 2000 pesos

  1. Makan

Untuk biaya makan, harga makanan disini hampir sama dengan di Jakarta. 100-200 pesos/satu kali makan untuk ukuran fast food. Sebenernya disini juga ada karendaria (semacam warteg) dengan harga lebih murah, hanya agak sulit membedakan yang mana yang halal dan haram haha.

  1. Pulsa/Internet

Kalau dibandingkan dengan di Indonesia, internet disini cukup mahal. Untuk dapat akses paket data itu sekitar 300rb/bulan.

  1. Transportasi

Metro manila sebagai kota dengan salah satu penduduk terpadat didunia, punya beberapa alternative transportasi.

  • MRT-LRT, yang menghubungkan wilayah selatan dan utara, menjangkau kota-kota area metro manila. Sama kayak di Jakarta, harganya juga cukup terjangkan. Sekitar 13-20 pesos untuk satu kali perjalanan. Menurut gue ini yang paling ekonomis dan efisien karena gak macet, tapi kalau lagi rush hour, brutalnya sama kaya KRL di Jakarta.
  • BIS kota, menghubungkan antar kota di metro manila, ongkosnya 12-25 pesos sekali jalan tergantung jarak
  • Jeepney (semacam angkot tapi nyentrik) ongkos nya 8 pesos
  • Tricycle (kaya bentor) 10 pesos
  • UV Express, menghubungkan antar kota harganya 45 pesos
  1. Entertaiment

FYI disini VAT 12% yang mana ngaruh ke harga-harga macem makanan dan tiket bioskop, jadi agak mahal, tiket nonton disini 280-320 pesos di hari biasa.

  1. Uber

Tarif uber disini lebih mahal disbanding uber di Jakarta dan jarang banget ada promo, mungkin juga karena harga bensin disini lebih mahal.

Hal lain yang perlu tahu juga, pajak penghasilan disini gede banget, sekitar 30% huhu berasa dirampok rasanya….

Rasanya Lebaran di Filipina itu…

Rasanya Lebaran di Filipina itu…

Ini emang bukan kali pertama gue merayakan lebaran ngga bareng keluarga di kampung halaman. Lebaran tahun 2014, gue merayakan disebuah desa di Lampung bersama keluarga angkat saat mengikuti program Indonesia Mengajar. Gue emang sangat penasaran bagaimana warga desa tempat gue tinggal merayakan lebaran. Jadinya gue memutuskan untuk ngga pulang ke kampung halaman.

Sekarang, gue juga penasaran gimana rasanya lebaran jauh dari keluarga di negeri orang yang mana gue juga gak banyak punya temen disini dan orang-orang sini pun ngga merayakannya. Awalnya hanya iseng aja, ternyata rasanya sedih juga sih. Lebaran kaya ngga lebaran. Gak ada suara takbir, gak ada tuh kue-kue khas lebaran atau santapan lainnya yang biasa dimakan bareng keluarga saat lebaran.

Sepi, iya dari rasa sepi ini bikin gue banyak berefleksi. Ternyata, keberadaan orang-orang di sekeliling kita, lebih kita butuhkan saat kita merasa senang dan ingin membagi kesenangan kita dengan mereka.

Beruntungnya, ada temen-temen dari Indonesia juga yang sama ngga pulang dan memilih merayakan disini. Gue undang lah mereka ke unit gue untuk sama-sama merayakan lebaran dan sholat Ied bareng di KBRI Manila. Thanks to KBRI manila yang menyediakan kudapan khas lebaran pelepas rindu. Rasanya lihat tempe itu kaya lihat Hamish Daud handukan doang depan mata haha.

Kita juga ngadain open house buat temen-temen kita disini, sekalian makan opor ayam bareng. Temen yang dateng bukan cuma dari Indonesia, ada juga temen-nya temen dari Srilanka, dan Thailand. Mereka senang banget karena ini jadi lebaran pertama mereka seumur hidup.

Kalau masih dikasih umur untuk lebaran lagi tahun depan, kira-kita bakal lebaran dimana ya? Note : Jangan tanya sama siapa.

 

 

 

 

D5C912E5-90D4-4325-904E-968A2B260675
Orang-orang yang rindu kampung halaman

 

Bergaul dengan Teman Internasional?

Gak ada dalam bayangan hidup gue waktu kecil, bakal punya temen dari negara lain. Sebagai anak yang di lahirkan dari bapak dan Ibu yang berasal dari daerah yang sama (Cuma beda RT) waktu kecil gue rasanya pasrah aja kalau temen-temen gue kelak ya dari daerah yang sama juga.

Semuanya unpredictable, berawal dari ikutan exchange ke Malaysia tahun lalu, beranda FB gue kini lebih berwarna, ada status-status dengan bahasa melayu dan jadi tahu isu-isu di negara tersebut akibat mereka sering share-share artikel berita negaranya. Berlanjut ketika kantor gue kedatangan anak magang dari Slovakia, sumpah sebelum kenal sama orang ini, bahkan gue gak tahu Slovakia itu dimana. Pas ketemu pertama dalam hati gue berguman (wah ini bule beneran!).

Berteman dengan teman dari Slovakia mengingatkan gue tentang pengalaman jaman SMP, dimana waktu itu kita piknik ke Borobudur, dan ampe berebutan mau foto sama Bule. Lalu kejadian tahun lalu pas teman bule gue ini di Jakarta, kita lagi jalan di stasiun tiba-tiba ada mas-mas minta foto bareng, bahkan pernah dia naik Grab Bike, di kasih gratis dan abang Grab nya minta foto bareng, jalan-jalan di kebun raya bogor yang tiba-tiba dikeroyok anak SMA yang lagi study tour buat diwawancara (terkadang gue ambil posisi jadi manager yang ngatur giliran foto). Entah ini doktrin darimana, tapi dulu gue selalu beranggapan kalau orang bule itu lebih keren dan lebih pinter. Mungkin ini juga yang masih dipikirkan sebagian orang di Indonesia.

Sekarang gue kerja di negeri orang dengan temen kantor dari berbagai negara, ada Filipino, Indonesian, American, juga dari Taiwan. Ini yang gue bilang Tuhan emang Maha Asik, kejutan-kejutan nya bener-bener unpredictable. Sampe-sampe kakak gue nanya itu kalau ngomong sama orang-orang itu pakai Bahasa apa? (yah menurut ngana?). Maklum di keluarga, ngga semua punya kesempatan kenal sama orang-orang dari berbagai negara.

Ngomongin soal pergaulan, sejujurnya gue juga masih mencari pola bagaimana bisa mengenal orang-orang disini. Sebagai anak muda yang gak suka minum kopi, gak minum alcohol yang disini biasa diminum untuk socialize , gak punya selera music, gak paham tentang fashion dan gak ngerti kalau diajak ngomongin film (kecuali film Indonesia) yang jauh dari kesan kekinian dalam banyak hal (gak suka sushi dan makanan aneh lain dari negara lain) plus bahasa inggris gue yang masih kacau kalau ngomong hingga kegiatan rutin semacam ghibah syariah untuk sementara mengalami moratorium karena terkendala bahasa. Orang-orang disini sangat welcome dan berusaha mengajak gue bergaul, semisal ngajakin olahraga volley sepulang kantor, sementara gue gak bisa main volley, ada yang mau ngajakin ngopi (terus gue gak suka ngopi). Mungkin kalau gue jadi mereka kesel juga ini anak maunya apa? Hahah semacam gak punya minat sama sekali.

Lalu gue sendiri mikir, gue minatnya apa ya? Hahaha Setelah dipikir-pikir, kalau ngobrol sama temen di Indonesia mah ngobrol / bahas gossip yang di posting lambe turah juga udah bisa akrab ngobrol sampe pagi, atau bahas drama bareng abang gojek, atau hanya sekedar ngomentarin akun nya si @jonbrayy yang suka bikin komik #NggaAdaFaedahnya ituh haha

Ngobrol sama temen-temen disini, obrolan masih seputar kondisi negara masing-masing (duh berat ya kak) dan mereka sangat penasaran dengan tampilan gue (yang berhijab) dan ujung-ujungnya bertanya banyak tentang religion. Dengan tingkat keilmuan gue yang masih cetek banget, jawab pakai Bahasa Indonesia aja gue mungkin salah, lah ini kudu jelasin pakai English. Modyar hahaha

Anw, dari segala cerita dan drama tentang pertemanan Internasional, menurut gue punya temen Internasional itu sedikit banyak akan membuka pikiran kita dalam melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Alasan ini juga sebeneranya yang memotivasi gue pengen sekolah lagi di luar negeri. Walaupun berbeda culture, nyatanya kita masih bias menghormati satu sama lain. So buat kamu yang belum punya teman Internasional, cobalah cari minimal satu, barangkali yang satu itulah jodohmu. Siapa tahu kan!