Vigan City Trip, Jalan-jalan murah di Philippines

Setelah hampir 6 bulan tinggal di Philippines, akhirnya gue berkesempatan juga travel ke kota lain yaitu Vigan City yang merupakan salah satu destinasi wisata di Philippines dan menjadi salah tempat yang masuk list UNESCO World Heritage. Sejarah Vigan bisa teman-teman googling atau baca disini.

Berawal dari ajakan teman-teman Indonesia yang juga tinggal di Philippines, kami ber 5 berangkat dari Manila menuju Vigan City menggunakan bus. Jarak Manila – Vigan City yang kurang lebih 400 km memakan waktu tempuh 8-10 jam tergantung kondisi lalu lintas. Sebelumnya kami sudah memesan tiket bus pulang pergi dari Cubao Terminal menuju Terminal Vigan. Tiket dipesan disini. Teman-teman juga bisa pesan langsung di Pool bis nya daerah Cubao, namun untuk berjaga-jaga sebaiknya pesan lebih awal. Kami juga sudah memesan hotel di Vigan City untuk satu hari bermalam. Info hotel disini.

Kami memulai perjalanan pukul 11 malam hari jumat dan tiba di Vigan City terminal pukul 7.30 pagi. Perjalanan rupanya makin cepat karena lalu lintas malam tidak terlalu ramai. Sampai di Vigan, karena belum bisa check-in, kami berkeliling mencari sarapan, yang ujung-ujungnya saparapan di McD. hehe. Sembari sarapan, kami mulai membuat itinerary (yaa kami pergi tanpa bikin itinerary sebelumnya hahah). Lalu di putuskan, dihari pertama kami akan menjelajah tempat yang jauh terlebih dahulu, yaitu Windmill yang ada di provinsi Ilocos Norte (kurang lebih 160 km) dari Vigan City.

#Hari 1

Kami coba cari tahu gimana menuju sana, cari info di internet, harga rental mobilnya mahal banget 9000 pesos. Hampir gak jadi lah kita sampai akhirnya ketemu lah si bapak-bapak yang lagi nongkrong di Plaza Burgos (salah satu area di Vigan City). Setelah nego-nego dengan sedikit kemampuan Bahasa Tagalog, kami dapat dengan harga 4500 pesos saja.

Ilocos Norte terletak hampir di ujung pulau Luzon, salah satu pulau besar paling atas kalau di peta. benar saja perjalanan dari Vigan menuju Ilocos Norte hampir 3 jam. Namun semuanya terbayar sudah saat kita sampe tempat tujuan kita. Windmill yang gue kira kecil ternyata guedeeee dan tinggi banget.

20170930_131630.jpg
Windmill di daerah Bangui Ilocos Norte

 

Memanfaatkan angin dan dengan tinggi 70 meter, panjang baling-baling 41 meter, satu windmill dapat menghasilkan maksimum 1.65 MW listrik. Di tempat ini, ada lebih dari 20 windmill yang beroperasi. Bener-bener renewable energy

Tempat selanjutnya yang kami kunjungi yaitu Kapur Purawan (15 menit) dari tempat windmill tadi. kapur purawan ini Pantai bebatuan (kapur) yang juga terdapat windmill.

IMG_4960.JPG
Salah satu spot di kapur purawan

Sebelum kembali ke Vigan, si Abang driver mengajak kami mengunjungi tempat yang namanya San Duns, disana ada hamparan pasir sekaligus tempat yang cocok untuk menikmati sunset, namun karena harus membayar 2500 pesos untuk menyewa jeep disana, kami memutuskan langsung kembali ke Vigan.

Malam minggu kami di Vigan dimulai dengan mencicipi makanan khas Vigan yaitu Empanada. Untuk teman-teman muslim, bisa memilih Empanada yang vegetable seperti yang kami pesan. Harga untuk satu empanada hanya 25 pesos saja.

20170930_204044.jpg
Empanada (vegetable and egg)

Dikoridor lain di kota Vigan, banyak cafe-cafe dan toko souvenir yang buka hingga malam, teman-teman bisa menikmati live musik dan santap makan malam sambil menikmati udara malam Vigan di BarTech (salah satu bar disana). untuk harga makanan disni relatif terjangkau untuk ukuran tempat wisata.

20171001_003625.jpg
Suasana malam di Vigan City

#Hari ke 2

Hari terakhir di kota Vigan sebelum kami pulang, kami berkeliling kota Vigan menggunakan Calesa (delman). Satu calesa bisa dinaiki maksimum 3 orang penumpang, mereka mematok harga 150 pesos per jam untuk satu Calesa, harga yang juga terjangkau untuk ukuran tempat wisata.

Dengan waktu yang terbatas, karena pukul 1.30 siang kita harus sudah kembali ke Manila, kami mengunjungi spot-spot manarik yang ada di kota Vigan. Dimulai dari Bantay Bell Tower, Musium Crisologo Memorabilia, berkunjung ke tempat kerajinan tanah, melihat zebra, rusa dan hewan lainnya di Baluarte Zoo, hingga sampai ke Hidden Garden (sebuah taman yang unik)

 

20171001_085614.jpg
Bantay Belltower

 

 

20171001_083711.jpg
Naik Calesa

 

Untuk Bujet keseluruhan Ongkos + Hotel + Makan + Wisata  gue sendiri menghabiskan sekitar 4000 pesos. Sungguh worth it untuk pengalaman weekend yang seru ini 🙂

 

 

Advertisements

Biaya Hidup di Metro Manila

Tulisan gue kali ini akan membahas tentang biaya hidup di Metro Manila, semoga bisa membantu memberikan gambaran buat temen-temen yang lagi nego gaji atau yang berencana pindah ke Metro Manila. Tentunya perkiraan biaya hidup ini di buat general, teman-teman bisa menyesuaikan dengan gaya hidup masing-masing.

Sebelum nya gue mau jelasin dulu nih apa bedanya Metro Manila sama Manila. Jadi Metro Manila itu sebutan untuk kumpulan kota-kota yang salah satunya Manila. Kalau di Indonesia kaya DKI Jakarta yang isinya Jakarta Selatan, Utara, Pusat, Timur, dan Jakarta Barat. Bedanya kalau DKI Jakarta punya gubernur, nah Metro Manila gak ada gubernurnya, hanya ada walikota di tiap-tiap kota. Gue sendiri tinggal di Taguig City yang masuk juga dalam area Metro Manila.

Jadi udah paham kan bedanya apa, bisanya biar cepet, gue juga selalu bilang tinggal di Manila, padahal aslinya tinggal di Taguig City bukan Manila City hihi.

Oke langsung ke biaya hidup, disini gue coba bagi ke katagori tempat tinggal, makan, pulsa, transportasi, dan entertainment.

  1. Tempat tinggal

Di Metro Manila, umumnya orang-orang yang kerja menyewa semacam apartment/condominium. Harga sewa tentu berdasarkan tipe (luas) dan juga lokasi. Untuk gambaran sewa satu kamar + dapur + mandi di daerah Quezon City berkisar 10.000-15.000 pesos belum termasuk listrik dan air. Listrik dan air sendiri cukup mahal juga, per-bulan gue bayar sekitar 2000 pesos

  1. Makan

Untuk biaya makan, harga makanan disini hampir sama dengan di Jakarta. 100-200 pesos/satu kali makan untuk ukuran fast food. Sebenernya disini juga ada karendaria (semacam warteg) dengan harga lebih murah, hanya agak sulit membedakan yang mana yang halal dan haram haha.

  1. Pulsa/Internet

Kalau dibandingkan dengan di Indonesia, internet disini cukup mahal. Untuk dapat akses paket data itu sekitar 300rb/bulan.

  1. Transportasi

Metro manila sebagai kota dengan salah satu penduduk terpadat didunia, punya beberapa alternative transportasi.

  • MRT-LRT, yang menghubungkan wilayah selatan dan utara, menjangkau kota-kota area metro manila. Sama kayak di Jakarta, harganya juga cukup terjangkan. Sekitar 13-20 pesos untuk satu kali perjalanan. Menurut gue ini yang paling ekonomis dan efisien karena gak macet, tapi kalau lagi rush hour, brutalnya sama kaya KRL di Jakarta.
  • BIS kota, menghubungkan antar kota di metro manila, ongkosnya 12-25 pesos sekali jalan tergantung jarak
  • Jeepney (semacam angkot tapi nyentrik) ongkos nya 8 pesos
  • Tricycle (kaya bentor) 10 pesos
  • UV Express, menghubungkan antar kota harganya 45 pesos
  1. Entertaiment

FYI disini VAT 12% yang mana ngaruh ke harga-harga macem makanan dan tiket bioskop, jadi agak mahal, tiket nonton disini 280-320 pesos di hari biasa.

  1. Uber

Tarif uber disini lebih mahal disbanding uber di Jakarta dan jarang banget ada promo, mungkin juga karena harga bensin disini lebih mahal.

Hal lain yang perlu tahu juga, pajak penghasilan disini gede banget, sekitar 30% huhu berasa dirampok rasanya….

Rasanya Lebaran di Filipina itu…

Rasanya Lebaran di Filipina itu…

Ini emang bukan kali pertama gue merayakan lebaran ngga bareng keluarga di kampung halaman. Lebaran tahun 2014, gue merayakan disebuah desa di Lampung bersama keluarga angkat saat mengikuti program Indonesia Mengajar. Gue emang sangat penasaran bagaimana warga desa tempat gue tinggal merayakan lebaran. Jadinya gue memutuskan untuk ngga pulang ke kampung halaman.

Sekarang, gue juga penasaran gimana rasanya lebaran jauh dari keluarga di negeri orang yang mana gue juga gak banyak punya temen disini dan orang-orang sini pun ngga merayakannya. Awalnya hanya iseng aja, ternyata rasanya sedih juga sih. Lebaran kaya ngga lebaran. Gak ada suara takbir, gak ada tuh kue-kue khas lebaran atau santapan lainnya yang biasa dimakan bareng keluarga saat lebaran.

Sepi, iya dari rasa sepi ini bikin gue banyak berefleksi. Ternyata, keberadaan orang-orang di sekeliling kita, lebih kita butuhkan saat kita merasa senang dan ingin membagi kesenangan kita dengan mereka.

Beruntungnya, ada temen-temen dari Indonesia juga yang sama ngga pulang dan memilih merayakan disini. Gue undang lah mereka ke unit gue untuk sama-sama merayakan lebaran dan sholat Ied bareng di KBRI Manila. Thanks to KBRI manila yang menyediakan kudapan khas lebaran pelepas rindu. Rasanya lihat tempe itu kaya lihat Hamish Daud handukan doang depan mata haha.

Kita juga ngadain open house buat temen-temen kita disini, sekalian makan opor ayam bareng. Temen yang dateng bukan cuma dari Indonesia, ada juga temen-nya temen dari Srilanka, dan Thailand. Mereka senang banget karena ini jadi lebaran pertama mereka seumur hidup.

Kalau masih dikasih umur untuk lebaran lagi tahun depan, kira-kita bakal lebaran dimana ya? Note : Jangan tanya sama siapa.

 

 

 

 

D5C912E5-90D4-4325-904E-968A2B260675
Orang-orang yang rindu kampung halaman