GAGAL LPDP DUA KALI

“Gimana Na?” temen gue dengan semangat nanya via WA.

“Gagal” itu yang gue ketik via wa tahun 2016, saat pertama kali gue daftar LPDP.

Tahun 2016 menjadi tahun pertama dimana gue sangat bersemangat buat lanjut sekolah, setelah selesai bertugas jadi guru selama setahun dan bekerja di Jakarta, mulailah ada keinginan dan harapan buat sekolah lagi di LUAR NEGERI. Saat itu gue rajin banget dateng ke pameran pendidikan, ngumpulin brosur, buka web kampus sampe bikin grup belajar yang isinya orang-orang yang lagi persiapan sekolah semua. Please jangan tanya teman-teman grup gue itu dimana, karena tahun ini mereka udah pada lulus dari universitas di Australia. Hamdalah

Selain latian bikin essay, tukar informasi, latian interview, yang paling terniat adalah kita bikin list pertanyaan yang mungkin ditanya saat wawancara yang kita bagi jadi 3 bagian (pertanyaan tentang kampus/bidang study, pertanyaan tentang pribadi, dan pertanyaan seputar LPDP). List nya ada puluhan bahkan mungkin ratusan (gue lupa) dan udah kesebar kemana-mana. Sampe tahun 2018 gue masih dapet itu dokumen dari orang yang padahal gue dan temen-temen gue yang bikin yang balik lagi ke gue heheehe

Pertama gue daftar LPDP, gue pake jalur prestasi, karena ceritanya IPK cumlaude, dan lulus baru 2 tahun dari kampus SI (dulu kebijakan jalur prestasi semudah ini). Jujur saat itu gue belum siap banget, daftar masi pake toefl, kemampuan Bahasa inggris masih sangat basic dan belum riset secara mendalam tentang kampus tujuan. Dulu nekad aja daftar mengingat teman-teman di grup belajar gue udah pada keterima. Udah ketahuan lah gagal. Tahun 2016 tahapan test LPDP ngga serumit sekarang. Kita submit aplikasi lengkap, kalau oke langsung ke seleksi substansi (interview, LGD, dan wawancara) dimana ini langsung menentukan keterima atau tidak.

Setelah gagal LPDP, gue evaluasi besar-besaran, gue review lagi tujuan hidup gue kedepan, apa goal yang pengen gue tuju di masa depan. Gue juga mulai perbaiki skill English dengan ambil IELTS Preparation di IALF Jakarta. Ini masa dimana gue sangat bokek se bokek bokeknya. Udah gaji belum seberapa, kudu bayar les dan bayar test IELTS juga. But it’s actually worth it!

Tahun 2017 gue skip daftar LPDP karena selain dapat kerjaan dan tinggal di Manila, gue juga ngerasa belum siap terutama dengan hasil IELTS yang masi kurang.

Tahun 2018, gue daftar lagi dengan persiapan yang menurut gue lebih matang, IELTS gue udah 6.5, gue juga udah mantep milih kampus dan jurusan, bahkan udah beberapa kali kontak dengan admission di beberapa universitas.

Akhir tahun 2018, gue resign dengan harapan bisa pindah lagi ke Jakarta dan fokus dengan urusan per-beasiswaan ini. Rupanya dengan antusiasme pendaftar yang makin banyak dan juga upaya LPDP untuk menyelenggarakan seleksi yang lebih baik, tahun 2018 seleksi dibagi dalam beberapa tahap. Mari kita bahas satu persatu.

  1. Tahap administrasi (sistem gugur)

Tahap ini sebetulnya cukup simple, kita hanya diminta menyiapkan, mengumpukan, dan mengupload seluruh persyaratan yang ada di list (silahkan googling sendiri yak syaratnya). Ketelitian sangat diperlukan untuk tahap ini, jangan sampe ada dokumen yang terlupa. Double or triple check is the key, sama jangan mepet daftarnya karena orang Indonesia pada seneng banget daftar berjamaah menjelang deadline.

 

  1. Tahap Seleksi Berbasis Komputer

Test komputer sebetulnya mengadopsi test CAT CPNS karena LPDP kerjasama dengan BKN. Dulu gue test nya aja di kantor BKN. Bedanya dengan CPNS, this is more advance. Kenapa gue bisa bilang begitu, karena di tahun yang sama gue juga nyoba ikut test CPNS dan soalnya jauh lebih mudah sodara-sodara. Jadi test komputer ini ngapain aja? Yang udah pernah ikut TPA pasti paham, ada soal verbal dan math macem antonim, sinonim, deret, matematika dasar hingga aljabar dan teman-temannya, dan soal logika bahasa hingga soal-soal bahasa Indonesia mirip pas kita ujian Bahasa Indonesia. Jangan khawatir, soal-soal ini disajikan dalam Bahasa Indonesia, tapi ya tetep buat gue yang dulu nilai bahasa ngga bagus-bagus amat, ini sungguh amat menantang.

Passing grade buat test ini (gosipnya) adalah 180 untuk peserta regular sementara untuk afirmasi mungkin di bawahnya (tapi gue gak tahu persis angkanya). Saat itu gue cuma dapet 166. Ya udah tahu dong gimana hasilnya.

 

Selain soal-soal pilihan ganda, ada juga essay on the spot. Seperti biasa, menjawab/membuat essay seputar issue-issue yang terkini di Indonesia. Waktunya hanya 30 menit ya pemirsa, diketik via komputer. Pas kemarin gue test, dapet issue tentang penyakit TB, ada juga temen yang dapet essay tentang stunting. Yak ternyata mengerjakan essay via komputer ngga lebih gampang dibanding ngerjain via kertas, gue tetep aja kejar-kejaran ama waktu. Plus nya ya ada fitur autocorrect kan, jadi kalau salah spelling bisa kelihatan.

 

  1. Seleksi substantif.

Yang ini gue gak bisa bahas detail karena gue pun bahkan gak sampe tahap ini. Info dari temen sih sama kaya tahun sebelumnya, isinya LGD dan wawancara. Karena essai on the spot udah di tahap 2 ya.

 

Berhubung gue udah pesimis dengan perolehan nilai saat seleksi berbasis komputer, udah gak mikirin tuh mau ada apa ngga pengumumannya, karena udah pasti gagal. Tapi temen gue nge WA dan keukeuh minta gue lihat hasilnya.

 

Ya ternyata gue ngga GAGAL, gue hanya Tidak Lolos Seleksi Berbasis Komputer!!

Palawan Trip Part 1: Explore Puerto Princesa

Setelah sekitar delapan bulan tinggal di Philippines, bulan lalu gue berkesempatan untuk travel ke salah satu TOP destinasi wisata di Philippines. Kata orang sih, ini kelasnya kaya Raja Ampat kalau di Indonesia. Bukan tempatnya mirip Raja Ampat, tapi level destinasinya seperti kalau orang Indonesia ke Raja Ampat. Berhubung gue belum pernah ke Raja Ampat, sulit juga untuk membandingkan dan menurut gue, setiap destinasi mempunyai keunikan masing-masing yang sudah di ciptakan yang maha kuasa. #malahceramah

Oke, jadi gimana gue bisa kesana?

Pertama, karena kebetulan gue tinggal dan bekerja di Philippines. Kedua karena ada tiket promo dari maskapai Cebu Pascific PP Manila-Puerto Princesa-Manila hanya PHP 2600 atau sekitar 700rb an yang menurut gue sangat worth it. FYI, gue beli tiket empat bulan sebelum tanggal berangkat, dan Alhamdulillah nya dapet unlimited paid leave dari kantor, jadinya asal aja tentuin tanggal berangkat yang kira-kira murah, cuss deh!

Destinasi yang kita tuju namanya Elnido, sebuah wilayah yang ada di salah satu propinsi di Philippines, yaitu Palawan. Hanya butuh waktu satu jam terbang dari Manila menuju Puerto Princesa (Ibu kota Palawan). Dari Puerto Princesa, kita masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih 6 jam untuk sampai di Elnido. Biasanya ada banyak mobil (van) di airport yang menawarkan jasa untuk mengantar kita ke Elnido, atau kita juga bisa meminta hotel tempat kita menginap untuk menjemput di bandara. Namun karena kami sampai Puerto Princesa siang hari, dan hotel yang kita book di Elnido baru bisa kita tempati untuk besoknya, maka kita putuskan untuk jalan-jalan dulu di kota Puerto Princesa dan berangkat ke Elnido malam hari menggunakan bus.

Tidak sulit untuk tahu tempat apa saja yang harus di kunjungi di Puerto Princesa ini. Ada banyak alternatif transportasi yang bisa membawa kita berkeliling, dari mulai Jeepney (angkot), Tricycle (semacam bentor) atau bisa juga untuk ikut one day tour dari travel agen. Dekat Puerto princesa, juga ada underground river yang termasuk salah satu 7 wonders of nature, but berhubung budget dan waktu kita terbatas, kita ngga kesana. Untuk kali ini, kita memilih berkeliling atau city tour menggunakan Tricycle. Nah uniknya, Tricycle ini memang sudah punya list destinasi apa saja yang bisa kita kunjungi. Untuk biaya, kami menyewa PHP 600 pesos untuk berkeliling seharian dari jam 12 sampai jam 9 malam. Sungguh sangat worth it!

 

20180207_122347.jpg
Tricycle Selfie with Kuya Nonoy

 

Tempat pertama yang kita tuju adalah taman kupu-kupu. Taman yang ngga luas-luas banget tapi juga ngga sempit ini memiliki banyak sekali koleksi kupu-kupu, ada juga yang masih kepompong. Uniknya, disini juga ada semacam pertunjukan kecil dari masyarakat suku asli yang di datangkan langsung dari bagian selatan pulau Palawan, namanya suku Palaw’an. Mereka memainkan beberapa alat musik, menujukan kemampuan berburu, dan kemampuan bertahan hidup (seperti menyalakan api tanpa korek alias pakai batu). Kalau kata temen yang pernah tinggal di Kalimantan, alat musik mereka sangat mirip dengan suku yang ada di Kalimantan.

 

20180207_143037
Foto sama temen-temen suku Palaw’an (ini difotoin mbanya buru-buru) 

 

Tempat kedua yang kita kunjungi yaitu Bakery Hills, yang ternyata adalah toko roti yag terkenal dan khas Palawan. Selain toko roti, di destinasi ini juga ada semacam taman bermain dan banyak spot-spot untuk berfoto. Harga roti nya pun ngga mahal-mahal amat. Masih sangat terjangkau.

 

20180207_154723.jpg
Rima bareng si Om Icon Bakery Hills

 

Destinasi ke tiga, lokasinya berdekatan dengan Bakery Hills yaitu Mitra’s Ranch, tempat ini semacam pendopo/gedung yang puny ataman yang luas dan rumput yang hijau. Disini kita juga bisa bermain flying fox atau sekedar naik kuda. Namun, berhubung kita orangnya percaya hemat pangkal kaya, jadi kita cuma duduk-duduk aja dirumput.

 

122222
Sekalian dengerincurhatan kak Rima :p

 

Destinasi, ke empat, kita menuju pantai di kota Puerto Princesa, namanya Bay Walk, selain lihat sunset, disana banyak juga jajanan seafood ikan-ikan segar yang harganya juga cukup terjangkau untuk ukuran seafood.

 

baywalk
swag ala-ala gak sabar pengen segera snorkling

 

Setelah puas berkeliling, abang tricycle menunjukan dan mengantar kita ke tempat beli oleh-oleh yang lengkap + murah kebangetan. Selama piknik di Philippines, belum nemu tuh gantungan kunci yang haranya 5 pesos saja (sekitar 1500 rupiah), jadilah kita agak kalap beli ini itu padahal piknik ke Elnido nya aja belum dimulai.

Akhirnya kita harus berpisah dengan Kuya Nonoy si abang tricycle di terminal bus menuju Elnido. Ini abang tricycle baik banget, ramah dan sabar, sepanjang jalan dia jelasin macem-macem, juga jagain banget barang-barang kita, sepanjang jalan bikin kita ngga bosen. Yang butuh transport buat jalan-jalan di Puerto Princesa, kita sempet tuh minta nomor Kuya Nonoy ini, doi biasa nongkrong di Bandara tapi menerima juga on call service. Telp kuya Nonoy +639275209143

Petualangan kita yang sesungguhnya baru dimulai, Di terminal bus Puerto Princesa, ada satu bus yang melayani hingga jam 9 malam, namanya bus Cherry (kayak buah) dengan ongkos 450 pesos saja. 6 jam di bus ngga kerasa karena kita semua minum antimo, tahu-tahu dibangunin kernetnya dibilang udah sampai Elnido.

Bersambung..

Dapat kerja via linkedin

Banyak banget yang bertanya-tanya, gimana ceritanya gue bisa terdampar di Philippines.

Eh gimana sih awalnya? Kok bisa?

Itulah yang semua orang tanyakan ke gue pas tahu gue kerja di Philippines, termasuk keluarga gue yang punya pertanyaan yang sama “Philippines? Kok gak umum sih, orang mah kerja di Singapore”. Begitulah kira-kira respon dari keluarga pas gue bilang dapet tawaran kerja di Philippines, katanya ngga umum, hahaha.

Well, jadi gini ceritanya, disuatu pagi yang cerah di Jakarta, waktu itu gue baru aja di tolak kerja di salah satu ecommerce gede di Indonesia, hari itu lagi galau-galau nya karena sebelumnya udah pede banget akan diterima. Yah tapi namanya juga hidup. Beruntunglah gue sudah terlatih patah hati dari dulu, walaupun sedih tapi yaudah lah ya, hidup kudu move on.

Tiba-tiba pas buka email, ada notifikasi dari linkedin di kotak masuk, ternyata seseorang mengirim pesan via linkedin. Wah, penasaran banget gue, jarang-jarang juga buka linkedin, dan bikin akun linkedin juga asalnya biar keren aja haha. Ternyata email itulah yang membawa gue sekarang kesini.

Pesan di linkedin kira-kira isinya dia lagi nyari orang yang mau gabung di perusahaan nya yang mau expand ke Indonesia. Mereka juga jelasin sedikit profil perusahaan nya disana, dan mencantumkan tautan websitenya, mereka meminta email/kontak jika gue tertarik untuk tahu lebih lanjut.

Berhubung gue orang nya sangat iseng plus selalu penasaran, tanpa pikir panjang gue bales lah dan kasih email gue. Lalu mereka balas lagi akan menghubungi via email.

Hari-hari berikutnya gak ada email masuk, sementara gue masih berusaha nyari tahu tentang perusahaan ini (walaupun hasilnya nihil dan gue masih gak paham). Sampai setelah beberapa hari, masuk lah email dari seseorang yang lain dan meminta waktu untuk interview via skype. Tanpa pikir panjang lagi (anaknya males mikir) gue bilang oke dan atur jadwal untuk skype.

Yak, hari itu datang, apesnya, karena melemnya habis ada acara di kantor dimana gue disana jadi TOA dan penggembira (dari moderator, pemandu ice breaking,  hingga beres-beres setelah acara) suara gue habis dan beneran gak bisa ngomong, tambah kepala puyeng karena kecapean. Hari itu gue tidur seharian dan lupa banget kalau ada jadwal interview. Huhu. Udah hopeless lah pasti mereka kira gue gak disiplin dan gak menghargai waktu. Walaupun telat gue email dan coba jelasin kondisinya. Eh diluar dugaan mereka sangat mengerti dan malah mendoakan gue cepat sembuh, juga bersedia untuk reschedule jadwal interview.

Gue deg-degan banget keringet dingin pas mau interview, berbagai kekhawatiran datang menghampiri, dari mulai gimana kalau ngga ngerti, gimana kalau ngga bisa jawab, gimana kalau internetnya lemot. Lalu beneran kejadian, internet lemot dan kita gak bisa video call, akhirnya hanya call aja. Karena gue orang nya sangat ingin tahu, akhirnya gue banyak lah bertanya di sesi interview itu. Sesi interview selesai di lanjutkan dengan interview-interview selanjutnya. Total gue di interview lima orang, selain itu ada juga tugas membaca artikel dan membuat video di akhir proses. Setelah gue dinyatakan diterima, mereka ngundang gue ke Philippines untuk lihat kantornya dan diskusi lebih detail tentang kontrak kerja. Mereka menanggng semua biaya dari mulai flight, akomodasi dan semua yang terkait dengan perjalanan gue ke sini. Percaya apa ngga, total waktu proses dari mulai pertama kali gue di interview sampe akhirnya gue dinyatakan diterima dan di undang untuk lihat kantornya, memakan waktu 3 bulan, belum lagi gue harus stay di kantor lama sekitar dua bulan sebelum pindah untuk menyelesaikan kerjaan dan cari pengganti.

Sekarang, udah 6 bulan disini, cerita tentang suka duka nya bisa di baca di postingan-postingan gue yang lain ya.